Tuesday, September 8, 2015

Surat Keluarga September 2015

SURAT KELUARGA SEPTEMBER 2015


KITAB SUCI adalah HIDUP SEHARI-HARI


Selamat hari hari Kitab Suci untuk keluarga-keluarga semua. Bulan September selalu dinantikan, karena membawa sukacita bertemu Sabda Tuhan yang mengajar dan membimbing kita bersama seluruh lingkungan di Keuskupan Agung Jakarta ini. Kita diajak untuk semakin mengenal panggilan kita sebagai anak-anak Allah yang secara pribadi mengimani Kristus secara unik.

Seluruh keluarga Anda juga diundang untuk datang dan merasakan sapaan Tuhan bersama permenungan yang mengingatkan, menyegarkan, memperdalam, memperkaya, dan menyadarkan iman Anda, bahwa Allah tetap menyertai melalui sabda-sabda-Nya. Ia begitu dekat, sedekat kita yang mau membaca dan mendengarkan firman-Nya.

Setelah membaca Kitab Suci, kita diharapkan dapat menemukan hidup baru di dalam bimbingan Tuhan. Seringkali kita mengatakan dalam doa-doa kita, "Terjadilah kehendak-Mu". Apa yang akan dan harus terjadi? Seluruh keluarga beriman belajar untuk memahami dan menerapkan ajaran sesuai yang dikehendaki Tuhan dalam Kitab Suci. Inilah kehendak Tuhan dalam arti sebenar-benarnya. Tuhan berbicara dan menyampaikan kehendak-Nya melalui kata-kata dan sentuhan-sentuhan yang khas yang membimbing kita sebagai pribadi.

Keluarga Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, tidak banyak anggota keluarga yang berminat mengikuti Pendalaman Kitab Suci (bukan hanya pendalaman iman). Biasanya jauh lebih banyak orang berminat untuk berdoa Rosario. Hal ini kurang tepat, karena firman Tuhan lebih berkuasa dan bahkan firman ini dapat mengubah hidup kita, jika kita percaya penuh dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk menjalaninya.

Doa Rosario dan doa devosional lain tentu saja sangat baik, tetapi di balik peristiwa berdoa itu, biasanya tersembunyi juga kebutuhan untuk menyampaikan permohonan-permohonan. Salam kepada Maria dan memohon doanya menjadi lebih disukai daripada mempelajari Kitab Suci atau pendalaman Alkitab, karena kita lebih senang menyampaikan kebutuhan daripada belajar firman Tuhan. Kita sering merasa berdoa sebagai tempat meminta, padahal ada banyak kekayaan dalam doa, juga kalau kita hanya sekedar "curhat" pun, itu diperhitungkan sebagai komunikasi yang dirindukan Tuhan.

Maria disebut memilih yang terbaik karena ia duduk diam di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan firman-Nya. Yesus bahkan mengatakan kepada Marta, bahwa mendengarkan firman itu baik daripada sibuk bekerja, terutama ketika Tuhan bersabda (bdk. Lukas 10.41-42). Penghargaan ini harus menjadi habit untuk kita juga sebagai pengikut Kristus di masa sekarang.

Dalam pendalaman Kitab Suci, kita menyampaikan kerinduan untuk belajar bersama Tuhan dan sesama selingkungan. Tetapi dalam pendalaman Alkitab, tujuan memohon jelas bukan yang utama, karena tujuan kita memang belajar kebijaksanaan hidup dari Firman Tuhan. Kita ingin dekat dengan Sang Firman, maka kita mempelajari isinya. Mempelajari firman Tuhan dalam Kitab Suci membawa kita merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Pendalaman Kitab Suci membawa gambaran yang semakin lengkap tentang Tuhan, bukan hanya menjadikannya tempat meminta, tetapi juga menyampaikan rasa gembira. Sekedar berbagi rasa, dan tempat menumpahkan rasa syukur karena belas kasih Tuhan. Ketika firman itu disampaikan dan direnungkan, sering kita merasa tersapa secara pribadi; menemukan hal penting yang dapat mengarahkan hidup lebih baik dan mendalam

Roma 10:8 mengatakan, "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Betapa dekatnya Tuhan sedekat firman yang dapat kita baca setiap waktu dalam Kitab Suci. Jika kita ingin mendekatkan anak-anak dan seluruh keluarga pada tuhan, maka Kitab Suci perlu mendapat perhatian istimewa. Ada banyak cara mendekatkan anak pada Kitab Suci, melalui membaca komik alkitab, aplikasi alkitab, dan terutama mendengarkan firman Tuhan dari perayaan Ekaristi.

Ketika anak-anak belajar untuk dekat dengan Tuhan, maka Ia akan lebih mudah dimpimpin ke dalam kebenaran. Kalau kita hanya mengandalkan "Datang ke perayaan Ekaristi", hanya "datang" dan "setor muka", yang terjadi iman menjadi kering, karena kita kurang merasa "masuk" dalam hadirat Tuhan. Tuhan hadir dalam pembacaan firman dan terutama dalam komuni kudus, tetapi kemauan kita mengerti dan menghayatinya selama proses Ekaristi itulah yang menentukan seberapa banyak kita akan merasakan kehadiran Tuhan. Dan salah satunya adalah mendengar firman Tuhan itu.

Ambillah waktu untuk membaca bacaan harian. Jadikanlah ini sebagai kebiasaan rutin, seperti saudara-saudara kita yang beragama lain yang mempunyai rutinitas harian untuk beribadah. Jika kita mau menyisihkan waktu untuk membaca Kitab Suci atau membacakan Kitab Suci kepada anak-anak dengan cara apa saja, saya percaya, ada suasana rohani yang akan orangtua ajarkan kepada anak-anak. Memperkenalkan Tuhan paling baik melalui kisah. Cerita membuat orang tidak harus terpaksa belajar, tetapi mengikuti kisah

Iman adalah sesuatu yang selalu bisa kita andalkan dan bahkan menjadi bekal untuk anak-anak kita. Rejeki bisa dicari dengan usaha manusiawi, tetapi iman adalah bekal yang diturunkan dari kesungguhan orangtua mencari Tuhan. Jangan hanya memberi harta atau pendidikan duniawi, berilah bekal rohani, agar anak-anak dan seluruh keluarga menjadi semakin sehat jasmani dan rohani. Usia belajar anak-anak adalah saat terbaik mereka mencari sendiri Tuhan dalam Kitab Suci.

Tuhan memberkati
Alexander Erwin MSF

Friday, September 4, 2015

Jumat Pertama

Sy yakin kita pernah mendengar mengenai Misa Jumat Pertama, termasuk sdh pernah tahu/membaca mengenai apa itu Misa Jumat Pertama. Lebih yakin lagi kalau diantara kita banyak sdh/selalu menghadiri Misa Jumat Pertama setiap bulannya. Tapi izinkan sy utk lebih menyegarkan kembali pengetahuan kita akan devosi yg berbasis pd Hati Yesus yg Maha Kudus ini. Selamat meresapi dan ber-Jumat Pertama hari ini!                                  MENGAPA MISA JUMAT PERTAMA?

PERAYAAN JUMAT PERTAMA
Cukup banyak umat yg terpanggil utk menghadiri misa Jumat pertama sebagaimana mrk merasa wajib utk menghadiri misa pd hari Minggu.
Apakah latar belakang di balik perayaan Jumat pertama?
ASAL-USUL JUMAT PERTAMA.
Perayaan Jumat pertama menunjuk pd devosi kpd Hati Kudus Yesus yg sebenarnya sdh dimulai pd abad 11 pd 12 Masehi di lingkungan biara Benediktin & Sistersian. Pd abad 13-16 Masehi, devosi ini menurun & mulai hidup lagi pd pertengahan akhir abad 16, salah satunya oleh Yohanes dari Avila (1569).
Pd abad 17, berbagai praktek devosi kpd Hati Kudus Yesus dr beberapa tokoh spiritual mulai menjamur, di antaranya Santo Fransiskus Borgia, Santo Aloysius Gonzaga & Beato Petrus Kanisius. Namun semuanya itu hanyalah devosi yg bersifat pribadi. Beato Yohanes Eudes (1602-1680) membuat devosi ini menjadi devosi umat, yg dirayakan dlm peribadatan. Ia bahkan menetapkan pesta liturgi khusus utk devosi kpd Hati Kudus Yesus ini. Pd tgl 31 Agustus 1670, pesta liturgis pertama utk menghormati Hati Kudus Yesus dirayakan dgn begitu agung di Seminari Tinggi Rennes, Perancis.
Walaupun demikian, perayaan Hati Kudus Yesus pd masa itu belum menjadi perayaan resmi gereja sedunia, tetapi merupakan awal devosi kpd Hati Kudus Yesus utk seluruh Gereja.
AWAL JUMAT PERTAMA
Istilah Jumat pertama sbg devosi kpd Hati Kudus Yesus berawal dari penampakan Yesus kpd St. Maria Margaretha Alacoque (1647-1690) di Perancis. Dalam penampakan-Nya, Yesus mengungkapkan rupa2 misteri rohani & permintaan urk penghormatan khusus kpd Allah. Pd penampakan ke-3 (1674), Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan dgn ke5 luka
penderitaan- Nya yg bersinar bagaikan mentari, & dari Hati Kudus Yesus tampaklah Hati Kudus Yesus yg mencinta.
Yesus mengungkapkan, bhw banyak orang tak menghormati & menyangkal-Nya. Oleh krn itu, sbg silih & pemulih atas dosa2 manusia, melalui Maria Margaretha, Yesus meminta utk menghormati- Nya secara khusus dgn menerima Sakramen Mahakudus sesering mungkin. Secara khusus pula, Yesus meminta utk menerima Komuni Kudus pd Hari Jumat pertama setiap bulan,& pd setiap Kamis malam di mana Yesus membagikan penderitaan yg dirasakan-Nya di Taman Getsemani. Hari Jumat Pertama itulah yg dirayakan oleh segenap umat sampai sekarang ini. Dan peringatan Hari Kamis malam masih dirayakan sampai sekarang ini di biara2 & oleh sebahagian umat dgn perayaan devosional yg disebut Hora Sancta atau Jam Suci.
Kita tdk mengetahui mengapa Yesus meminta utk menerima Komuni Kudus pd hari Jumat Pertama. Jika dikaitkan dgn Hari Kamis malam sbg kenangan akan derita Yesus di Taman Getsemani, tentu Hari Jumat yg dimaksud Yesus adalah hari wafat-Nya di kayu salib. Mengapa harus hari Jumat Pertama & bukan setiap hari Jumat? Kita jg tdk menemukan alasannya. Mungkin hari Jumat pd bulan baru menunjuk pd permulaan yg baik utk kehidupan Kristen sepanjang bulan itu.
Setelah penampakan Yesus pd Maria Margaretha Alacoque, devosi kpd Hati Kudus Yesus berkembang pesat. Pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus pada Hari Jumat sesudah Pesta Tubuh & Darah Kristus. Hal ini berkaitan langsung dgn permintaan Yesus pd Maria Margaretha Alacoque saat penampakan ke-4 (1675) utk menghormati Hati Kudus-Nya
secara khusus. Itulah pesta liturgis yg sampai sekarang ini dirayakan oleh gereja kita secara resmi.
MAKNA JUMAT PERTAMA
Adalah hal yg baik bagi umat utk meneruskan devosi kpd Hati Kudus Yesus pd hari Jumat pertama setiap bulan, krn anugerah khusus akan diberikan kpd mrk yg menerima komuni pd 9 hari Jumat pertama ber-turut2. Sebelum meninggal, orang tsb tdk akan mati dalam dosa, krn diberi pengampunan dosa & akan mengalami kebahagiaan dalam keluarga & penghiburan dalam derita. God bless us all!
Sumber: Grup WA lingkungan oleh om laurent.

Thursday, September 3, 2015

Mari ber-Ekaristi dengan Baik dan Benar

Mari ber-Ekaristi dengan Baik dan Benar

---- Agar diperhatikan :

1. Masuk ke Gereja membuat tanda salib.

Jangan terburu-buru, tetapi hayatilah dan syukurilah bahwa karena rahmat Baptis anda bisa bergabung ke dalam persekutuan Gereja. Jangan membiasakan memberi air suci pada orang lain dengan mengulurkan jari anda. Ketika anda dibaptis anda dipanggil dengan nama pribadi anda, berarti sangat personal, maka tanda salib jangan dibuat dengan asal-asalan

2. Perayaan Ekaristi/ Misa Kudus adalah rangkaian doa.

Maka tanda salib hanya dilakukan pada awal dan akhir misa kudus saja yaitu ketika imam memulai dan mengakhiri misa. Jangan buat tanda salib banyak-banyak. Tanda Salib di sini menunjuk pada tanda salib biasa dan bukan penandaan dahi, bibir, dan dada dengan salib yang tetap harus dilakukan saat bacaan Injil.

3. Ketika doa pembuka, sampaikanlah ujud pribadi anda dalam hati, singkat saja sambil mengaminkan doa yang dibawakan imam.
Tuhan sudah tahu masalah anda jadi tidak perlu bertele-tele. Pada zaman dahulu, kesempatan ini diisi dengan doa spontan oleh umat yang hadir, yang akhirnya ditutup oleh imam. (Kesempatan lain yang bisa dilakukan untuk menyampaikan ujud pribadi adalah ketika doa umat, pada waktu yang disediakan).

4. Tanda salib yang dibuat sebaiknya tanda salib besar, yaitu dengan menyentuh pusar (sebagai lambang inkarnasi Kristus).
Tidak membuat tanda salib ketika imam memberi absolusi umum ("...semoga Allah mengasihani kita...dst.."), karena yang kita ikuti adalah Misa Kudus bukan Sakramen Tobat. Tidak salah membuat tanda salib dengan menyentuh dada ketika berkata "Putra".

5. Berlutut sebelum duduk, jangan asal-asalan, jangan hanya membungkuk, kecuali terpaksa.
Yang ada di depan anda adalah Kristus sebenar-benarnya dalam rupa Hosti di Tabernakel. Ingatlah sejenak juga akan inkarnasi Kristus. Hosti dalam Tabernakel, bisa diasosiasikan dengan Kristus dalam rahim Maria.

Tentang pakaian yang pantas untuk menghadap Pencipta anda sendiri yang ada secara fisik di hadapan anda, anda pasti bisa memilihnya bukan? Seberapa sopan anda berpakaian mencerminkan seberapa tinggi penghormatan anda akan Kristus dalam tabernakel.

6. Nyanyikanlah Tuhan Kasihanilah kami dan Kemuliaan dengan penuh hormat.
Harap diingat bahwa Kemuliaan adalah kidung malaikat di padang Efrata ketika kelahiran Kristus. Jadi, mohon dinyanyikan dengan penuh sukacita dan hormat.

7. Bacaan kitab suci yang dibacakan dari ambo (mimbar) adalah waktu Allah berbicara dan kita mendengarkan, yaitu menyimak dengan penuh perhatian.
Jika paroki anda menyediakan teks misa, anda lebih baik membaca kutipan bacaan sebelum misa dimulai. Tatap lektor/imamnya karena Allah sedang berbicara pada anda. Komunikasi yang baik dalam percakapan adalah saling menatap bukan?

Pembacaan Injil - dan bukannya homili - adalah puncak Liturgi Sabda. Harap diingat, suara yang anda dengar adalah Suara Kristus sendiri karena imam bertindak IN PERSONA CHRISTI (mewakili Kristus sepenuh-penuhnya)

8. Mohon menyanyikan KUDUS dengan sepenuh hati, dengan keagungan, jangan asal-asalan.
Dikarenakan bahwa ketika menyanyikan/mengucapkan KUDUS kita bergabung dengan seluruh penghuni surga yang memuji Allah tak henti.

9. Ketika konsekrasi (Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku atau ketika Hosti diangkat dan Piala diangkat) anda boleh mengangkat kedua tangan yang terkatup seperti ritus ibadat di Pura Hindu, namun berlutut sudah merupakan ungkapan penyembahan.

Yang terpenting ketika konsekrasi adalah anda harus menatap-Nya. Harap diingat, Suara yang anda dengar (Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku, adalah Suara Kristus sendiri. Lagi, hal ini dikarenakan Imam bertindak IN PERSONA CHRISTI.

Jadi?

TATAPLAH Hosti dan Piala itu dengan penuh hormat, yakinkan pada diri anda kalau itu adalah Kristus sendiri, bukannya sibuk dengan permohonan dalam hati.

10. Ketika imam mengucapkan/menyanyikan : "Dengan perantaraan Kristus, bersama Dia, dan dalam Dia...dst..." Ikutilah dalam hati,
TATAPLAH hosti dan piala yang diangkat.

Ketika "AMIN" dinyanyikan (dalam bahasa inggris disebut THE GREAT AMEN").
Mohon dinyanyikan dengan sepenuh hati, dengan suara terindah yang anda miliki. Dikarenakan bahwa The Great Amen ini adalah puncak Liturgi Ekaristi.

11. Jangan menadahkan tangan seperti imam, pada waktu berdoa atau menyanyikan Bapa Kami.
Dikarenakan imam sedang berdoa atas nama Gereja atau IN PERSONA ECCLESIA.

Sikap yang benar adalah mengatupkan tangan, tanda berdoa. Hayatilah doa Bapa Kami. Sadarilah bahwa "rezeki" yang anda minta itu terutama adalah "Roti Hidup" dalam Ekaristi. (dalam bahasa aslinya (Aram), doa Bapa Kami menggunakan kata "roti" bukan rezeki. Pun, dalam bahasa latin digunakan kata "PANEM" yang berarti roti.)

12. Tidak mengucapkan doa  PRESIDENSIAL (yang boleh diucapkan oleh imam saja) doa: "..jangan perhitungkan dosa kami tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu"

Jika Imam mengucapkan "marilah kita mohon damai Tuhan" dsb sebelum doa ini, bukan berarti kita harus ikut mengucapkan doa ini. Ucapkan dalam hati saja kemudian diaminkan dengan iman.

13. Ketika menerima komuni, TATAPLAH terlebih dahulu hosti yang diangkat sebelum ditaruh di tangan anda. Amin harus diucapkan dengan penuh iman.

14. Tidak perlu ikut menghormat ketika imam menghormati Tabernakel dan altar (juga pada waktu awal misa).

Tidak masalah jika anda tetap melakukannya karena merupakan kebiasaaan yang saleh. Namun kalau anda menghadiri misa di luar negeri, jangan kaget kalau di negara tertentu praktik ini tidak dilakukan.

15. Mengambil air suci pada saat keluar Gereja tidak perlu dilakukan.
Mengambil air suci sebelum anda masuk gereja sebenarnya kurang lebih berfungsi seperti wudhu, yaitu untuk menyucikan (dan mengingatkan akan Baptis). Ketika anda selesai misa, Kristus yang Maha Suci sudah masuk dalam tubuh anda, tidak diperlukan lagi sarana penyucian lain.

Namun demikian, tidak ada salahnya kalau dilakukan, asal jangan karena latah, namun harus disertai kesadaran iman, bahwa anda kini diutus untuk mewartakan karya salib Kristus lewat perkataan dan perbuatan.

Anda harus menjadi contoh bagi orang lain.

Jangan takut untuk mensosialisasikan hal-hal di atas pada siapa saja yang menghadiri misa bersama anda.

Tambahan :
Sampaikan dengan sopan pada saudara dari persekutuan gerejawi lain (Protestan) agar mereka tidak ikut mengambil komuni, namun boleh menerima berkat seperti katekumen yaitu dengan menyilangkan tangan di depan dada, sehingga yang memberikan komuni tahu bahwa dia bukanlah seorang katolik.

Walaupun mereka tergabung dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik berkat Sakramen Baptis, namun komuni hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma (Paus sebagai penerus Petrus), dengan kata lain komuni hanya eksklusif untuk umat Katolik.

Tambahan bagi perempuan katolik :

Jangan merasa terhalang menerima komuni jika anda sedang mengalami datang bulan. Tuhan Yesus tidak mempermasalahkan sesuatu yang manusiawi. Konsep terhalang karena datang bulan hanya ada di tetangga seberang.

Sumber : http://ekaristi.org