Tuesday, December 1, 2015

Membentuk Kepribadian Kristiani

PERCIKAN HATI
Rubrik Hidup Keluarga

Membentuk Kepribadian Kristiani

Setiap manusia itu unik. Oleh sebab itu, tidak ada satu orang pun yang punya kepribadian atau sifat yang sama.

Lalu apakah kepribadian itu bisa dibentuk? Ya, kepribadian tentu bisa dibentuk. Lingkungan tempat tinggal dan juga pengalaman hidup kita setiap hari dapat mempengaruhi kepribadian atau sifat kita.

Begitupun dengan iman kita akan Kristus. Kualitas kepribadian Yesus dapat pula menjadi milik kita, milik anak-anak kita, milik keluarga kita, bila kita mau membentuknya. Walaupun memang alangkah baiknya jika pembentukan kepribadian itu kita mulai sejak dini pada anak-anak kita.

Cara yang sederhana adalah cobalah untuk bercerita tentang Tuhan Yesus kepada anak-anak entah itu secara langsung atau dengan menggunakan media seperti buku, gambar ataupun video tentang Yesus yang bisa dipahami anak. Tanamkan pula hidup doa yang baik pada anak serta kemauan untuk memberi diri dan beramal sejak dini.

Dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan seperti itu di tengah keluarga, maka besar harapan di kemudian hari anak-anak kita boleh tumbuh menjadi orang Kristen yang baik. Semoga!

PERCIKAN HATI
Rabu, 2 Desember 2015
----------------

Dari "GUDEG TURUN KE HATI" Simak dalam acara Kisah Kasih  hanya di :
KAJ RADIOLINE PK.06.00-24.00
Persembahan:
KOMISI KOMSOS
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Dengan agenda Siaran
RABU  2 DESEMBER 2015 :

Pk.06.00; 12.00; 18.00: 
Oase Rohani Katolik :
Belas Kasih Allah, bersama RD. Jost Kokoh

Pk.07.00; 13.00; 19.00 :
KAJ Spirit

Pk .08 .00; 14.00; 20.00 :
Kisah Kasih : 
Gudeg Yu Jinem

Pk.09.00; 15.00; 21.00 :
KAJ Spirit

Pk.10.00; 16.00; 22.00 :
Manajemen Hati :
Syukur atas Iman

Pk.11.00; 17.00; 23.00 :
KAJ INSPIRASI

Klik saja : http://www.radio.kaj.or.id/

**Terimakasih untuk Broadcast Program Ini**

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. ... Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar"

Rabu, 2 Desember 2015
Pekan Adven I
Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 15:29-37.

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. ... Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar"

St. Cirilus Alexandria (376-444): <<Tuan rumah (=Tuhan) selalu menyiapkan hidangan bagi semua orang. Bukan hanya bagi orang Israel yang telah dipilih-Nya melalui bapa bangsa mereka, tetapi bagi semua orang di dunia. ... Perjamuan (yang disediakan-Nya) dilengkapi dengan anggur. Ini merujuk pada sakramen mahakudus, yakni korban kudus tanpa darah (=Ekaristi) yang kita rayakan dalam Gereja kudus-Nya.>> (Commento su Isaia 25:6-7).

= Kepada kita masing-masing, hati Tuhan selalu tergerak oleh belas kasihan. Setiap kali kita datang kepada-Nya, Ia tidak membiarkan kita pergi dengan "kelaparan". Ia membekali kita dengan berkat-Nya, dengan sabda-Nya, dengan damai-Nya, dengan Roh kudus-Nya. Jangan pernah ragu untuk datang dan berharap kepada-Nya. Pada giliran-Nya, kita pun diundang untuk mempunyai hati yang penuh belas kasih: hati yang tidak mengizinkan kita untuk membiarkan orang lain menderita = agawpr.

(Pastor Agus Widodo,Pr - Roma)

Menghindari Kesalahpahaman

PERCIKAN HATI
Rubrik Inspirasi Kitab Suci

Menghindari Kesalahpahaman

"….Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang."
(Yes. 11:3b)

Dalam sebuah seminar, seorang pembicara yang terkenal taat beragama tiba-tiba berkata, "Saya akan membuat sebuah pengakuan. Saya pernah dekat dengan seorang wanita yang telah bersuami. Kami pernah tinggal bersama dan saya sangat mencintainya.

Mendengar pengakuan sang pembicara, bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya sudah ada beberapa orang keluar dari ruangan itu dengan raut wajah yang penuh dengan rasa kecewa.

Melihat reaksi para pendengarnya, pembicara itu melanjutkan "Saya akan memberitahukan siapa wanita itu. Dia adalah ibu saya." Para pendengar pun langsung tertawa terbahak-bahak.

Sahabat, tanpa sadar kita pun sering menghakimi orang tanpa terlebih dahulu mendengar dengan lebih seksama atau mencari tahu lebih lanjut mengenai kebenaran berita yang kita dengar.

Mari kita belajar dari sosok Sang Raja damai yang dibicarakan oleh nabi Yesaya pada hari ini. Mari berusaha untuk tidak menghakimi orang berdasarkan peristiwa atau berita yang belum jelas kebenarannya. Bangunlah kebiasaan baru untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara agar kita tidak mudah salah paham atau memberi penilaian negatif kepada orang lain.

PERCIKAN HATI
Selasa, 1 Desember 2015